Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pengetahuan’ Category

Posting kali ini untuk mengapresiasi respon posting sebelumnya yang cukup tinggi yaitu probiotik dalam akuakultur, sekaligus menambah referensi terhadap probiotik.

Mekanisme antagonistik probiotik sendiri bekerja dengan beberapa macam cara antara lain:

  • Produksi senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain sebagai contoh bacteriocins, antibiotik seperti surfactins, itulins, bacilysins yang diproduksi spesies bacillus (Urdaci dan Pinchuk, 2004).
  • Kompetisi terhadap substansi yang essensial (yang diperlukan untuk metabolisme). Sebagai contoh Vibrio strain P memenangkan persaingan dengan vibrio patogen dengan mengabsorbsi zat besi. Hal ini dikarenakan Vibrio strain P memproduksi siderophores (Gatesoupe, 1997).
  • Kompetisi untuk ruang adhesi (adhesion sites). Semakin awal kolonisasi probiotik potensial di dalam saluran pencernaan, maka semakin bagus (potensi kerja probiotik) (Bengmark, 1988).
  • ‘Quorum sensing’ antar bakteri. Bakteri dapat berkomunikasi satu sama lain dengan memanfaatkan molekul tertentu yang berperan sebagai sinyal. Dengan quorum sensing, populasi bakteri dapat meregulasi ekspresi gen dan pada akhirnya mempengaruhi komunitas bakteri tersebut (Henke dan Bassler, 2004). Peneliti dari Ugent membuktikan bahwa bakteri dapat menghambat quorum sensing dari bakteri pesaing dengan memproduksi enzim yang menonaktifkan molekul sinyal (Defoirdt, et al., 2004).

ide tulisan oleh Joseph Laranja, ditranslasi/modifikasi oleh Roffi G.

Iklan

Read Full Post »

Kelompok peneliti dari Ghent University – Belgium, memastikan bahwa vannamei (SPF) yang diinfeksi WSSV, bila dipelihara pada suhu 33 °C, tidak akan terpengaruh oleh virus tersebut. Hal ini kemungkinan bisa menjadi strategi bagi pembudidaya udang untuk menghindari virus WSSV.

Pada kelompok udang yang diuji tantang serta dipelihara pada suhu 27 °C, dan juga kelompok yang dipelihara pada suhu awal 27°C (yang kemudian dinaikkan suhu medium ke 33 °C setelah uji tantang dengan virus; menunjukkan gejala sel-sel yang positif WSSV 12 jam pasca uji tantang. 24 jam kemudian, udang di kedua perlakuan tersebut menunjukkan infeksi sistemik.

Dari perlakuan terhadap udang yang diuji tantang dengan virus titer WSSV, serta dipelihara dengan suhu air konstan pada suhu 33 °C, tidak menunjukkan sel-sel yang positif terkena WSSV setelah 24 jam pasca uji tantang. Ini menunjukkan bahwa suhu air yang tinggi mencegah terjadinya penyakit (yang disebabkan WSSV) dan secara signifikan mengurangi mortalitas.

Penelitian ini menjustifikasi daftar penemuan sebelumnya bahwa suhu tinggi berperan terhadap menurunnya prevalensi WSSV. Di Ecuador dan Thailand, prevalensi WSSV di tambak serta hatchery, menurun seiring dengan datangnya musim yang lebih hangat (Rodriguez et al., 2003 dan Withyachumnarnkul et al., 2003). Temperature juga berpengaruh terhadap serangan virus pada hewan ektothermik seperti ikan dan insekta, sebagai contoh infeksi yang disebabkan KHV (Gilad et al., 2003; Iida and Sano, 2005).

Mekanisme yang melatarbelakangi hal ini diduga terjadinya hyperthermia yang memicu mekanisme pertahanan pada inang (dalam hal ini udang). Hal tersebut berpengaruh terhadap replikasi WSSV (Vidal et al., 2001; Granja et al., 2003).

Artikel lengkapnya dapat Anda unduh.

Read Full Post »

Semakin berkembangnya teknologi dan penelitian mengenai GMO (Genetically Modified Organisms) maka semakin meningkat pula isu mengenai akseptansi oleh konsumen terhadap produk akuakultur yang telah mengalami modifikasi genetis. Informasi mengenai pendapat konsumen khusus pada produk akuakultur yang termodifikasi secara genetis, masih dirasakan kurang, oleh karena itu posting ini dirasakan perlu ada untuk sedikitnya mendapat gambaran mengenai pendapat konsumen di berbagai belahan dunia saat ini.

Modifikasi atau rekayasa genetik pada akuakultur bertujuan untuk produksi yang efisien. Beberapa hal yang telah dilakukan dengan teknologi rekayasa genetik transgenik saat ini antara lain memanfaatkan gen ikan yang diketahui mampu meningkatkan pertumbuhan dan meningkat resistensi terhadap penyakit.

Sebagian besar produk GMO di berbagai belahan dunia masih dikembangkan di skala lab dan menjadi objek penelitian namun di masa mendatang produk ini mungkin saja akan lebih populer karena menawarkan produsen akuakultur alternatif “yang lebih efisien dan lebih murah”.

Pada artikel ini akan dibahas mengenai pendapat konsumen ‘khususnya’ di USA terhadap produk GMO akuakultur berdasarkan data survey yang dilakukan sekelompok peneliti dari West Virginia, USA. Bila dibandingkan dengan masyarakat Eropa, masyarakat USA lebih cenderung untuk menerima produk GMO. Masyarakat Eropa cenderung lebih hati-hati dengan produk GMO (yang sudah ada) dengan mewajibkan pemasangan label tertentu, bahkan sapi yang diberi pakan dengan bahan baku non GMO cenderung dihargai lebih tinggi. Hal ini ditambah pula dengan preferensi masyarakat Eropa terhadap produk organik dengan traceability yang mengikuti aturan tertentu.

Namun membandingkan akseptansi USA dan Eropa terhadap produk GMO dirasakan kompleks karena perbedaan kultur, perbedaan aturan yang diterapkan ditambah kurangnya pengetahuan tentang GMO.

Hasil survey yang dilakukan tahun 2005 oleh tim peneliti terhadap 800 responden dari berbagai daerah di USA, menunjukkan bahwa potensi terbesar konsumen produk akuakultur GMO adalah masyarakat yang mempunyai income lebih tinggi dengan kategori usia dewasa dan dari kelompok non Afro-American. Model yang dikembangkan oleh peneliti menunjukkan pula bahwa konsumen kemungkinan besar bisa memilih produk GMO yang memiliki persepsi environmental friendly (ramah lingkungan) . Arah penelitian ini selanjutnya berkembang untuk mengetahui mengapa pada saat survey terdapat persepsi yang cukup beragam, diduga hal ini mengarah pada ketersediaan informasi (yang kurang) dan mungkin juga pandangan agama seseorang terhadap bioteknologi ini.

Masih banyak yang perlu diketahui mengenai hubungan konsumen dan produk akuakultur GMO sebagai contoh meneliti preferensi konsumen terhadap ikan tangkap versus produk akuakultur dihubungkan dengan isu GMO.  Isu lain yang besar adalah dampak produk GMO terhadap pasar produk perikanan secara global. Hal-hal seperti ini harus segera diantisipasi (dan diteliti) mengingat semakin pentingnya isu ini di masa mendatang walaupun di Indonesia belum terdengar adanya produk GMO dari akuakultur di pasaran.

*Roffi G*

Referensi:

WILLINGNESS TO CONSUME GENETICALLY MODIFIED
FOODS—THE CASE OF FISH AND SEAFOOD
Brian Bennett, Gerard D’Souza, Tatiana Borisova, and Anura Amarasinghe & Agricultural and Resource Economics Program, Division of Resource Management, West Virginia University, Morgantown, West Virginia, USA

Aquaculture Economics & Management, 9:331–345, 2005

Read Full Post »

Budidaya Rajungan

Posting sebelumnya di blog ini mengenai budidaya rajungan  cukup mendapat respons tinggi padahal hanya berisi link yang mengarahkan pembaca ke halaman web lain. Di posting ini kami ingin menambahkan informasi mengenai budidaya rajungan yang mudah-mudahan akan berguna bagi pembaca blog.

Populasi rajungan di alam semakin terancam dengan rusaknya habitat dan juga eksploitasi oleh nelayan di beberapa daerah sehingga mengakibatkan rendahnya ketersediaan rajungan di alam. Penangkapan kepiting rajungan yang berlebih itu tak lepas dari besarnya permintaan untuk ekspor, antara lain ke Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan beberapa negara Eropa. Permintaan pasar terhadap rajungan yang sangat tinggi harus segera diatasi dengan melakukan budidaya/akuakultur terhadap spesies yang dimaksud.

Prospek akuakultur rajungan cukup besar namun kendala-kendala teknis hingga saat ini masih menghambat kesuksesan dalam akuakultur.

Secara umum permasalahan dalam budidaya rajungan ini adalah: Merupakan usaha yang relatif baru, masih adanya ketidakpastian dalam model bisnis, terdapat kompetisi penggunaan ruang dengan budidaya udang, cost production  tidak menentu, penanganan yang dirasakan lebih sulit sehingga membutuhkan tenaga kerja yang tinggi, ketersediaan benih di alam yang tidak pasti (untuk pembesaran), ketersediaan pakan pembesaran yang murah dan kelangsungan hidup yang rendah akibat kanibalisme.

Mungkin masih terdapat banyak permasalahan namun upaya untuk mengatasi terus dikembangkan. Riset dan pengembangan spesies ini di masa depan akan sangat berguna bagi kesempurnaan teknik pembenihan dan pembesaran sehingga bisa diaplikasikan oleh masyarakat luas.

Untuk yang sangat memerlukan informasi tambahan, silahkan baca proceeding dalam bahasa Inggris berjudul Proceeding ACIAR Crab Aquaculture. (harus dibuka dengan software adobe acrobat reader)

Referensi lain:

° Rajungan yang nyaris punah

° Budidaya rajungan belum populer

° Populasi Kepiting Rajungan yang mulai langka

Read Full Post »

Bioteknologi dalam dua dekade terakhir telah berperan besar dalam sebagian besar disiplin ilmu contohnya ilmu kedokteran, farmasi dan pertanian. Dengan perkembangan teknologi di setiap bidang (termasuk akuakultur), peluang penelitian dengan menggunakan teknik-teknik terbaru pun muncul dan hal ini membangkitkan pula industri  bioteknologi dewasa ini.

Beberapa “platform” bioteknologi yang telah diaplikasikan pada bidang akuakultur akan dijelaskan dibawah ini.

A. Teknologi ekspresi protein

Produksi protein rekombinan sedang hangat dalam bidang bioteknologi. Ada berbagai metoda yang dapat dipilih sebagai sistem ekspresi antara lain pendekatan bakterial, yeast (ragi),  sel insekta maupun transgenik. Banyak produk sebagai contoh hormon, gonadotropin dan enzym telah digunakan dalam akuakultur. Ekspresi antigen untuk pengembangan vaksin mewakili pula kegiatan dalam bidang ini.

B. Mikrosatelit, RFLP, Analisis QTL

Teknologi “sidik jari” DNA dan pemetaan DNA semakin mempermudah perkembangan ilmu dalam akuakultur.  Teknologi tersebut digunakan untuk identifikasi stok, seleksi dalam kegiatan breeding, dan mengidentifikasi gen yang penting dalam akuakultur seperti pertumbuhan dan resistensi terhadap penyakit. Pemetaan dan karakterisasi gen semakin dipermudah dengan adanya teknologi QTL (Quantitative Trait Loci).

C. Vaksin DNA

Kegiatan ini melibatkan pengunaan DNA untuk mengekspresikan antigen dalam inang sebagai bagian dari proses vaksinasi. Teknologi ini telah diterapkan dalam skala penelitian pada rainbow trout dan hasilnya sangat bagus. Ketika di uji tantang dengan virus IHNV, hampir 100% ikan dengan  perlakuan teknologi ini selamat dan perlakuan kontrol 85-90% mengalami kematian.

D. Chip DNA

Teknologi baru ini mampu menganalisa ekspresi ribuan gen dalam satu microchip.  Teknologi ini berkembang pesat dan telah diaplikasikan untuk ekspresi gen, pemetaan, penemuan gen, diagnosa genetik. Dalam akuakultur sudah ada beberapa grup riset yang menggunakan teknologi ini untuk meneliti ekspresi gen pada ikan.

E. Proteomics

Proteomics adalah bidang baru dalam biology  modern. Proteomic adalah ilmu yang mempelajari sifat protein (tingkat ekspresi,  interaksi, modifikasi setelah translasi dan lainnya) dalam skala besar untuk memperoleh pandangan jelas dan terintegrasi sebagai contoh untuk mengetahui proses yang menyebabkan penyakit, meneliti proses-proses dalam sel, networking pada skala protein. Teknologi ini adalah kombinasi dari elektroforesis “2D” polyacrilamide gel dengan spektrometer. Ditunjang oleh teknologi komputer untuk mengolah data dan bioinformatika, teknologi ini menjadi metoda yang cepat dan sensitif untuk mengetahui karakterisasi protein. Kesimpulannya teknologi ini bisa mengidentifikasi protein yang dapat berperan untuk penemuan obat, theurapeutics dan lainnya.

F. Teknologi Transgenik

Teknologi transgenik telah digunakan sejak 1980 dan sekarang berkembang memproduksi makhluk hidup dengan fenotip yang diinginkan. Teknologi ini pun berguna di bidang kedokteran sebagai bioreaktor untuk membuat protein therapeutic. Saat ini teknologi memungkinkan untuk mengintroduksi gen yang diinginkan pada binatang maupun tumbuhan. Dalam bidang akuakultur teknologi ini berguna untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan; mengatur kematangan gonad, diferensiasi sex dan sterilitas; meningkatkan resistensi terhadap pathogen; mengadaptasi ikan terhadap lingkungan baru (freeze resistance!); merubah karakteristik biokimia dari daging ikan sehingga menciptakan rasa daging yang diinginkan; mengubah jalur metabolisme sehingga terjadi efisiensi pakan.

Sumber:

The role of aquatic biotechnology in aquaculture. Choy L. Hew dan Garth L. Fletcher. Aquaculture 197 (Issues 1 – 4).

Read Full Post »

Penulis: Agus Kurnia. Staf Pengajar Jurusan Perikanan Universitas Haluoleo Kendari, Kandidat Doktor pada Tokyo University of Marine Science and Technology. Tokyo.

Disadur atas izin http://www.beritaiptek.com

Ikan sebagai sumber makanan protein hewani tidak akan pernah terlepas dari seberapa besar tingkat konsumsi ikan dunia. Oleh karena itu seiring dengan pertumbuhan populasi dunia, konsumsi ikanpun semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data dari Badan Pangan Dunia (FAO), konsumsi ikan dunia telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1973 dan negara-negara berkembang mengambil peran penting dalam masalah ini. China dengan dominasi dalam faktor pendapatan dan kependudukan, telah mendominasi konsumsi ikan dunia dan menggeser posisi jepang, dimana konsumsi ikannya sebanyak 36% dalam tahun 1997 dan dibandingkan hanya sekitar 11% di tahun 1973. Sementara jepang ditahun yang sama menurun dari 24% menjadi tinggal 11%.

Baca terusan artikel di sini: http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2006-05-29-Saatnya-Indonesia-Menerapkan-Budidaya-Ikan-Ramah-Lingkungan.shtml

Read Full Post »

Penyakit Udang

 

Penyakit udang dapat memasuki tambak Anda melalui salah satu atau kombinasi hal-hal dibawah ini:

  • Benih : Benih yang berasal dari tangkapan alam maupun dari pemijahan buatan dapat menjadi sumber penyakit. Densitas yang tinggi, kultur yang intensif dan stress memperbesar peluang infeksi viral dan dapat menyebar pada seluruh udang dalam waktu yang singkat. Benih hasil produksi sangat rentan terhadap penyakit karena virus dapat di introduksi dari induk maupun dapat menyebar melalui kontaminasi dalam ataupun antar unit hatchery.
  • Sumber Air : Air dapat menjadi sumber patogen. Partikel virus dapat menempel pada partikel organic maupun inorganic yang terdapat pada air. Penyakit dapat menyebar pada daerah dimana lebih dar satu tambak udang berbagi sumber air dan mengunakannya sebagai daerah pembuangan air.
  • Organisme Liar: Organisme di sekitar tambak dapat menjadi penyebar patogen. Lebih dari 40 spesies crustacea berpotensi menyebarkan WSSV. Sebagai contoh kepiting maupun insekta.
  • Burung dan Mammalia: Patogen dapat menyebar melalui burung. Patogen TSV contohnya masih dapat bertahan dalam saluran pencernaan burung sehingga memungkinkan penyebaran penyakit antar tambak. Walaupun belum diverifikasi mamalia seperti tikus dapat pula menyebarkan penyakit.
  • Pakan: Pakan yang berasal dari rucah ikan bisa menjadi salah satu jalan menyebarnya penyakit sebab kemungkinan bisa terkontaminasi. Pakan pellet sejauh ini paling aman mengingat virus mungkin tidak bertahan dalam proses produksi pellet.
  • Manusia dan peralatan: Manusia dapat menjadi penyebar penyakit udang bila sering berpergian antar tambak maupun antar lokasi pemrosesan udang.

Penulis: Roffi Grandiosa

Read Full Post »

Older Posts »