Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Dunia’ Category

Kunjungan Ratu Sofia ke proyek rehabilitasi perikanan pasca tsunami di Aceh

Ratu Sofia dari Spanyol mengunjungi proyek rehabilitasi perikanan pasca tsunami di Aceh sebagai salah satu rangkaian acara mengunjungi Indonesia dan Kamboja. Tsunami yang terjadi di Aceh pada bulan desember 2004 menimbulkan kerusakan dahsyat pada bidang perikanan dan akuakultur.

Ratu Sofia menginspeksi fasilitas pembuatan perahu nelayan dan mengunjungi tambak dan kolam budidaya ikan. Beliau juga menginaugurasi sebuah model hatchery di Ladong yang nantinya akan digunakan sebagai pusat pelatihan untuk teknik perikanan yang sustainable. Beliau bertemu dengan sebagian stakeholder proyek yang kebanyakan wanita yang bertempat tinggal di pesisir propinsi Aceh. Beliau mengunjungi pula petani yang telah menerima fasiltas, peralatan, benih serta asistensi untuk membangun kembali usaha budidaya perikanan.

Kunjungan Ratu Sofia didampingi He Changchui yang menjabat sebagai asisten direktorat jenderal FAO untuk Asia Pasifik, staff ahli FAO dan staf ahli dari Spanish International Cooperation (AECI).

He Changchui mengatakan bahwa dengan bantuan Spanyol, nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah ikan mempunyai kesempatan untuk membangun kembali usaha mereka sehingga memiliki kembali masa depan. He Changchui berterimakasih pula atas kedatangan Ratu Sofia ke Aceh sebagai salah satu langkah menyukseskan misi FAO untuk mencapai misi keamanan pangan dunia.

AECI saat ini menyediakan dana sejumlah 1.5 juta euro untuk proyek yang telah berlangsung semenjak Desember 2005. Sebagai upaya tambahan, AECI juga mendampingi pemerintah Republik Indonesia dalam mengkoordinasi strategi dan perencanaan perikanan.

Press release issued by the office of the FAO Representative in Indonesia
dikutip dari http://www.reliefweb.int/rw/RWB.NSF/db900SID/LSGZ-6Y6DJF?OpenDocument

Iklan

Read Full Post »

PT. Central Proteinaprima (CPRO), perusahaan raksasa akuakultur berbasis di Indonesia yang bergerak pada akuakultur udang terintegrasi, membuat langkah yang spektakuler dengan mengambil-alih sebuah perusahaan budidaya udang berbasis di Florida, USA. Perusahaan yang diambil alih itu adalah perusahaan bernama Shrimp Improvement Systems (LLC) yang bergerak pada produksi benih udang tahan penyakit.

Hendrik Silalahi sebagai sekretaris korporat menyatakan keputusan ini didasari bahwa SIS memiliki program pemijahan udang yang sukses dan dapat meningkatkan resistensi terhadap penyakit, demikian yang beliau katakan kepada Jakarta Stock Exchange (JSX). Selanjutnya yang jadi pertimbangan adalah SIS mempunyai metoda untuk meningkatkan kualitas benih udang yang bebas patogen serta perusahaan ini sudah mempunyai pasar ke 20 negara.

Akuisisi ini merupakan langkah strategis CPRO untuk meningkatkan kinerja perusahaan korporasinya, dalam jangka panjang memperkuat aktivitas operasional serta wilayah pemasaran global. CPRO kedepannya berencana meningkatkan program penelitian genetis di SIS, dan menyeleksi udang yang cocok untuk diimplementasikan di Indonesia. Selanjutnya akuisisi ini berupaya untuk meningkatkan produksi udang dan resistensi udang terhadap penyakit, juga membuat peluang untuk menciptakan pasar untuk memasarkan benih di Indonesia.

Saham CPRO sendiri di lantai bursa efek pada minggu ini merupakan saham teraktif setelah PGAS.

News Source: http://www.antara.co.id/en/seenws/?id=26210

http://www.cpp.co.id/sites/index.php?do=ir.main

Read Full Post »

Semakin berkembangnya teknologi dan penelitian mengenai GMO (Genetically Modified Organisms) maka semakin meningkat pula isu mengenai akseptansi oleh konsumen terhadap produk akuakultur yang telah mengalami modifikasi genetis. Informasi mengenai pendapat konsumen khusus pada produk akuakultur yang termodifikasi secara genetis, masih dirasakan kurang, oleh karena itu posting ini dirasakan perlu ada untuk sedikitnya mendapat gambaran mengenai pendapat konsumen di berbagai belahan dunia saat ini.

Modifikasi atau rekayasa genetik pada akuakultur bertujuan untuk produksi yang efisien. Beberapa hal yang telah dilakukan dengan teknologi rekayasa genetik transgenik saat ini antara lain memanfaatkan gen ikan yang diketahui mampu meningkatkan pertumbuhan dan meningkat resistensi terhadap penyakit.

Sebagian besar produk GMO di berbagai belahan dunia masih dikembangkan di skala lab dan menjadi objek penelitian namun di masa mendatang produk ini mungkin saja akan lebih populer karena menawarkan produsen akuakultur alternatif “yang lebih efisien dan lebih murah”.

Pada artikel ini akan dibahas mengenai pendapat konsumen ‘khususnya’ di USA terhadap produk GMO akuakultur berdasarkan data survey yang dilakukan sekelompok peneliti dari West Virginia, USA. Bila dibandingkan dengan masyarakat Eropa, masyarakat USA lebih cenderung untuk menerima produk GMO. Masyarakat Eropa cenderung lebih hati-hati dengan produk GMO (yang sudah ada) dengan mewajibkan pemasangan label tertentu, bahkan sapi yang diberi pakan dengan bahan baku non GMO cenderung dihargai lebih tinggi. Hal ini ditambah pula dengan preferensi masyarakat Eropa terhadap produk organik dengan traceability yang mengikuti aturan tertentu.

Namun membandingkan akseptansi USA dan Eropa terhadap produk GMO dirasakan kompleks karena perbedaan kultur, perbedaan aturan yang diterapkan ditambah kurangnya pengetahuan tentang GMO.

Hasil survey yang dilakukan tahun 2005 oleh tim peneliti terhadap 800 responden dari berbagai daerah di USA, menunjukkan bahwa potensi terbesar konsumen produk akuakultur GMO adalah masyarakat yang mempunyai income lebih tinggi dengan kategori usia dewasa dan dari kelompok non Afro-American. Model yang dikembangkan oleh peneliti menunjukkan pula bahwa konsumen kemungkinan besar bisa memilih produk GMO yang memiliki persepsi environmental friendly (ramah lingkungan) . Arah penelitian ini selanjutnya berkembang untuk mengetahui mengapa pada saat survey terdapat persepsi yang cukup beragam, diduga hal ini mengarah pada ketersediaan informasi (yang kurang) dan mungkin juga pandangan agama seseorang terhadap bioteknologi ini.

Masih banyak yang perlu diketahui mengenai hubungan konsumen dan produk akuakultur GMO sebagai contoh meneliti preferensi konsumen terhadap ikan tangkap versus produk akuakultur dihubungkan dengan isu GMO.  Isu lain yang besar adalah dampak produk GMO terhadap pasar produk perikanan secara global. Hal-hal seperti ini harus segera diantisipasi (dan diteliti) mengingat semakin pentingnya isu ini di masa mendatang walaupun di Indonesia belum terdengar adanya produk GMO dari akuakultur di pasaran.

*Roffi G*

Referensi:

WILLINGNESS TO CONSUME GENETICALLY MODIFIED
FOODS—THE CASE OF FISH AND SEAFOOD
Brian Bennett, Gerard D’Souza, Tatiana Borisova, and Anura Amarasinghe & Agricultural and Resource Economics Program, Division of Resource Management, West Virginia University, Morgantown, West Virginia, USA

Aquaculture Economics & Management, 9:331–345, 2005

Read Full Post »

Dari Situs http://www.dkp.go.id

Artikel 12/12/06
Sumber Warta Pasar Ikan November 2006

Dalam laporan terbarunya The State of World Aquaculture 2006, FAO menyatakan bahwa 45,5 juta ton (43 %) ikan yang dikonsumsi berasal dari budidaya. Angka tersebut telah menunjukkan lompatan yang luar biasa dibandingkan dengan kondisi tahun 1980 yang hanya 9 %. Produksi dunia ikan hasil budidaya serta ikan hasil tangkapan di laut serta perairan umum adalah sekitar 95 juta ton per tahun, dimana 60 % nya dikonsumsi manusia.

Meskipun saat ini sumbangan ikan hasil tangkapan masih relatif tinggi, tetapi hasil penangkapan telah berada pada level yang jenuh dan diperkirakan akan begitu seterusnya. Untuk memenuhi kebutuhan ikan sebagaimana tingkat konsumsi seperti saat ini di tahun 2030, diperlukan sekitar 40 juta ton dari hasil budidaya.

Padahal gambaran di seluruh dunia, permintaan terhadap ikan akan terus naik sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan. Contohnya negara maju di tahun 2004 mengimpor 33 juta ton ikan senilai US$ 61 milyar yang setara dengan 81 % nilai perdagangan dunia pada tahun tersebut.

Satu-satunya pilihan untuk memenuhi kebutuhan ikan di masa mendatang adalah melalui budidaya. Hanya saja bagaimana dapat mewujudkan hal itu dengan baik. Budidaya ikan dapat mengisi kesenjangan permintaan dengan pasokan. Tetapi di sisi lain juga terdapat beberapa kekuatan yang mungkin dapat membelokkan produksi ke arah yang sebaliknya sehingga tidak memungkinkan industri budidaya tumbuh secara besar-besaran untuk memenuhi besarnya permintaan di masa mendatang. Salah satunya adalah kurangnya investasi modal di kalangan pembudidaya. Kendala lainnya adalah terbatasnya lahan serta ketersediaan air bersih yang digunakan dalam usaha budidaya. Meningkatnya biaya energi, serta dampak lingkungan serta sederet pertanyaan lain yang terkait dengan keamanan produk juga memerlukan perhatian seksama. Tanpa dukungan penuh dari pemerintah untuk pengembangan industri budidaya, maka rasanya akan sulit untuk dapat memenuhi secara kontinu permintaan ikan pada 25 tahun mendatang.

Bagaimana dengan Indonesia?
Merebaknya kasus pembalakan liar kayu – kayu di hutan menyisakan bencana alam dan pengangguran akibat berkurangnya kesempatan kerja. Begitu pula dengan industri pertambangan yang telah habis sumbernya maka akan menambah pula angka pengangguran. Dari pembicaraan dengan berbagai pihak di wilayah yang mempunyai potensi perairan umum cukup besar seperti Kalimantan dan Sumatera, budidaya perikanan diharapkan dapat menjadi katup penyelamat. Budidaya ikan relatif cepat menghasilkan, teknologinya mudah dikuasai dan pasar dalam negeri masih terbuka luas. Namun demikian untuk mewujudkan gagasan tersebut perlu dukungan yang simultan dari berbagai pihak sehingga manfaatnya dapat cepat dirasakan.

Read Full Post »

Bioteknologi dalam dua dekade terakhir telah berperan besar dalam sebagian besar disiplin ilmu contohnya ilmu kedokteran, farmasi dan pertanian. Dengan perkembangan teknologi di setiap bidang (termasuk akuakultur), peluang penelitian dengan menggunakan teknik-teknik terbaru pun muncul dan hal ini membangkitkan pula industri  bioteknologi dewasa ini.

Beberapa “platform” bioteknologi yang telah diaplikasikan pada bidang akuakultur akan dijelaskan dibawah ini.

A. Teknologi ekspresi protein

Produksi protein rekombinan sedang hangat dalam bidang bioteknologi. Ada berbagai metoda yang dapat dipilih sebagai sistem ekspresi antara lain pendekatan bakterial, yeast (ragi),  sel insekta maupun transgenik. Banyak produk sebagai contoh hormon, gonadotropin dan enzym telah digunakan dalam akuakultur. Ekspresi antigen untuk pengembangan vaksin mewakili pula kegiatan dalam bidang ini.

B. Mikrosatelit, RFLP, Analisis QTL

Teknologi “sidik jari” DNA dan pemetaan DNA semakin mempermudah perkembangan ilmu dalam akuakultur.  Teknologi tersebut digunakan untuk identifikasi stok, seleksi dalam kegiatan breeding, dan mengidentifikasi gen yang penting dalam akuakultur seperti pertumbuhan dan resistensi terhadap penyakit. Pemetaan dan karakterisasi gen semakin dipermudah dengan adanya teknologi QTL (Quantitative Trait Loci).

C. Vaksin DNA

Kegiatan ini melibatkan pengunaan DNA untuk mengekspresikan antigen dalam inang sebagai bagian dari proses vaksinasi. Teknologi ini telah diterapkan dalam skala penelitian pada rainbow trout dan hasilnya sangat bagus. Ketika di uji tantang dengan virus IHNV, hampir 100% ikan dengan  perlakuan teknologi ini selamat dan perlakuan kontrol 85-90% mengalami kematian.

D. Chip DNA

Teknologi baru ini mampu menganalisa ekspresi ribuan gen dalam satu microchip.  Teknologi ini berkembang pesat dan telah diaplikasikan untuk ekspresi gen, pemetaan, penemuan gen, diagnosa genetik. Dalam akuakultur sudah ada beberapa grup riset yang menggunakan teknologi ini untuk meneliti ekspresi gen pada ikan.

E. Proteomics

Proteomics adalah bidang baru dalam biology  modern. Proteomic adalah ilmu yang mempelajari sifat protein (tingkat ekspresi,  interaksi, modifikasi setelah translasi dan lainnya) dalam skala besar untuk memperoleh pandangan jelas dan terintegrasi sebagai contoh untuk mengetahui proses yang menyebabkan penyakit, meneliti proses-proses dalam sel, networking pada skala protein. Teknologi ini adalah kombinasi dari elektroforesis “2D” polyacrilamide gel dengan spektrometer. Ditunjang oleh teknologi komputer untuk mengolah data dan bioinformatika, teknologi ini menjadi metoda yang cepat dan sensitif untuk mengetahui karakterisasi protein. Kesimpulannya teknologi ini bisa mengidentifikasi protein yang dapat berperan untuk penemuan obat, theurapeutics dan lainnya.

F. Teknologi Transgenik

Teknologi transgenik telah digunakan sejak 1980 dan sekarang berkembang memproduksi makhluk hidup dengan fenotip yang diinginkan. Teknologi ini pun berguna di bidang kedokteran sebagai bioreaktor untuk membuat protein therapeutic. Saat ini teknologi memungkinkan untuk mengintroduksi gen yang diinginkan pada binatang maupun tumbuhan. Dalam bidang akuakultur teknologi ini berguna untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan; mengatur kematangan gonad, diferensiasi sex dan sterilitas; meningkatkan resistensi terhadap pathogen; mengadaptasi ikan terhadap lingkungan baru (freeze resistance!); merubah karakteristik biokimia dari daging ikan sehingga menciptakan rasa daging yang diinginkan; mengubah jalur metabolisme sehingga terjadi efisiensi pakan.

Sumber:

The role of aquatic biotechnology in aquaculture. Choy L. Hew dan Garth L. Fletcher. Aquaculture 197 (Issues 1 – 4).

Read Full Post »