Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2006

Pada dekade terakhir, WSSV (White Spot Syndrome Virus) adalah pathogen utama pada budidaya udang dan seringkali menimbulkan epizootic. Kerugian akibat WSSV pada budidaya udang di Asia dari tahun 1992 hingga 2001 diperkirakan mencapai 4-6 Milyar US Dollar (Lightner, 2003). Dampak dari praktek akuakultur yang ceroboh dapat menyebabkan transmisi horisontal dari lingkungan akuakultur udang yang terkena WSSV pada lingkungan sekitar daerah tambak. Akibat dari hal ini dapat terjadi kondisi dimana WSSV dapat bertahan di lingkungan perairan dalam bentuk virion bebas, ataupun berada dalam jaringan tubuh makhluk yang hidup maupun mati.

Organisme yang bersifat filter feeder seperti moluska dapat mencerna dan mengakumulasikan material termasuk partikel virus. Virion WSSV dalam jaringan tubuh yang mati dan juga detritus dapat bertahan hingga 4 hari lamanya. Virus ini dapat pula ditransmisikan pada organisme lain seperti crustacea benthic dan fauna lainnya (contoh: Polychaete) melalui berbagai jalur yakni filter feeding, detritus feeding hingga predasi. Virus ini dapat pula bertahan pada saluran alimentary dalam pencernaan invertebrata sehingga menjadikan binatang tersebut sebagai pembawa pasif dari virus.

Polychaete adalah zoobenthos yang mengandung nutrisi yang tinggi dan sudah tak tergantikan sebagai pakan induk untuk mematangkan gonad udang (Penaeus monodon). Pengunaan polychaete untuk pakan mesti dicermati ulang mengingat bila polychaete adalah hasil tangkapan dari alam, kemungkinan yang dapat terjadi adalah organisme ini dapat mengandung virus yang membahayakan udang (WSSV). Namun pertanyaan besar timbul; Apakah betul populasi polychaete di alam dapat terinfeksi WSSV ? dan apakah induk udang Penaeus monodon dapat terkena penyakit white spot akibat mengkonsumsi polychaete yang terinfeksi? Hal itu telah diteliti oleh peneliti dari Central Institute of Brackish Water di India.

Survei yang dilakukan menunjukkan bahwa dari 8 titik survey daerah akuakultur udang di India (wilayah Tamilnadu), 5 titik mempunyai cacing WSSV positif dengan prevalensi yang berkisar antara 16,7 hingga 75%. Hal ini diuji pula dalam skala labortarium dimana lebih dari 60% cacing yang sengaja diekspos terhadap WSSV, setelah 7 hari menjadi cacing WSSV positif. Penelitian yang dilakukan terhadap calon induk udang yang diberi polychaete yang dikontaminasi WSSV menunjukkan bahwa setelah mengkonsumsi polychaete, induk udang positif terkena WSSV.

Pemberian pakan induk udang dengan menggunakan polychaete harus diantisipasi agar epizootik WSSV tidak terjadi. Perkembangan peralatan biologi molekular seperti PCR memungkinkan untuk melakukan program screening terhadap keberadaan WSSV pada polychaete. Tim peneliti dari India telah membuktikan bahwa polychaete mempunyai peran besar dalam epizootiology dari WSSV.

Referensi:

Polychaete worms—a vector for white spot syndrome virus (WSSV)

K. K. Vijayan*, V. Stalin Raj, C. P. Balasubramanian, S. V. Alavandi, V. Thillai Sekhar, T. C. Santiago  

Journal of Disease of Aquatic Organism Vol. 63: 107–111, 2005

Iklan

Read Full Post »

Akuakultur saat ini menjadi kegiatan ekonomi yang penting dan saat ini menghadapi kendala yang penting yang mampu menimbulkan kerugian ekonomis yang besar, permasalahan itu adalah penyakit yang disebabkan bakteri pathogen. Di awal perkembangan akuakultur upaya yang dilakukan adalah menggunakan antibiotik sebagai upaya kemoterapi untuk menghilangkan penyakit. Hal ini dipraktekkan secara intensif di awal-awal perkembangan akuakultur bahkan penggunaannya berlebihan. Peningkatan penggunaan antibiotik pada akuakultur malah diikuti oleh bertambahnya penyakit patogenik dan seringkali hal ini sekarang dikaitkan dengan meningkatnya resistensi bakteri patogen terhadap bahan kimia (antibiotik). Kekhawatiran pun muncul dari aplikasi antibiotik pada ikan konsumsi terhadap manusia. Dari berbagai sumber ilmiah disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik (seperti Quinolone, Tetracycline dll.) menyebabkan mutasi kromosom pathogen atau akuisisi plasmid.Berbagai solusi diupayakan antara lain vaksinasi, teknologi budidaya yang lebih baik, code of practices, best management practices dan lain sebagainya, tentunya membawa dampak positif pada perkembangan akuakultur. Penggunaan probiotik yang bekerja melalui mekanisme tertentu untuk melawan pathogen, saat ini dipandang sebagai langkah alternatif. Beberapa tahun terakhir probiotik yang sudah biasa digunakan pada manusia dan binatang mulai diaplikasikan kepada bidang akuakultur (Gatesoupe, 1999; Gomez-Gil et al., 2000; Verschuere et al., 2000; Irianto and Austin, 2002; Bache`re, 2003).Tujuan tulisan ini adalah untuk menjelaskan secara singkat prinsip dan mekanisme kerja probiotik.Istilah probiotik ditujukan terhadap bakteri yang mendukung kesehatan organisme lain. Probiotik sendiri dapat ditemukan di alam, diisolasi dan diidentifikasi serta diteliti sifat antagonistik terhadap pathogen secara in vitro. Ada beberapa mekanisme aksi terhadap bakteri pathogen yang dapat dijelaskan antara lain kompetisi eksklusif terhadap bakteri pathogen (contoh: Pseudomonas I2 terhadap beberapa vibrio pathogen udang) , sebagai sumber nutrien dan kontribusi enzim pada pencernaan ikan (contoh: Clostridium sp.), penyerapan material organik yang dimediasi oleh probiotik, serta meningkatnya immunitas ikan terhadap pathogen. Beberapa kandidat probiotik menunjukkan efek antivirus walaupun mekanisme kerja probiotik ini belum jelas akan tetapi eksperimen lab menunjukkan bahwa inaktivasi virus dapat dimediasi oleh substansi kimiawi dan biologis yang diekstrak dari algae maupun extra celullar agent dari bakteri. Beberapa strain Pseudomonas sp., Vibrio sp. dan Aeromonas sp. yang diisolasi dari hatchery salmon menunjukkan aktivitas antiviral terhadap virus IHNV dari salmon (Kamei, et. al. 1988). Sangat penting untuk mengetahui mekanisme kerja probiotik dalam menentukan kriteria untuk probiotik yang berguna untuk mencegah berkembangnya pathogen. Studi yang mendalam masih harus terus dikaji antara lain pengaruh probiotik secara in vivo, pengembangan teknologi molekular untuk seleksi probiotik dan juga untuk lebih memahami kinerja, komposisi dan fungsi dari probiotik. Efisiensi penerapan probiotik dalam akuakultur akan sangat bergantung dari pengetahuan spesies dan atau strain dari bakteri probiotik ini.Terinspirasi dari:

The Role of Probiotics in Aquaculture. Jose´ Luis Balca´zar, Ignacio de Blas, Imanol Ruiz-Zarzuela, David Cunningham, Daniel Vendrell, Jose´ Luis Mu´zquiz.Veterinary Microbiology 114 (2006) 173–186

Read Full Post »

Infectious myonecrosis (IMNV) adalah penyakit udang yang disebabkan virus. Pertama kali menyerang Penaeus vannamei di Brazil. Sekarang sudah ditemukan di P. vannamei di Indonesia.

IMNV on vannamei


Hasil Temuan:

1. IMNV menyerang udang jenis vannamei pertama kali di Situbondo Propinsi Jawa Timur bulan Mei 2006.

2. Species: P. vannamei, juvenil berumur 60- 80 hari.

3. Gejala Klinis: Warna merah pada segmen abdominal, myonecrosis (rusaknya jaringan otot) dengan ciri warna putih pada otot yang terserang.

4. Diagnosa telah dilakukan dan dikonfirmasi oleh Aquaculture Pathology Lab di University of Arizona (Dr. Lightner, USA).

Source: Network of Aquaculture Centres in Asia-Pacific Webpage. Health: IMNV Found in Asia-Pacific (http://www.enaca.org/modules/news/article.php?storyid=825). Posted by Simon Wilkinson. August 21, 2006.

Tambahan: Waspada ada outbreak di daerah lain. Jika membeli benih pastikan juga untuk menambah option untuk screening PCR akan keberadaan IMNV.Bila udang Anda terkena gejala klinis seperti di atas, harap hubungi instansi DKP yang terkait untuk menginformasikan penyakit ini.

Read Full Post »