Feeds:
Tulisan
Komentar

event akuakultur 2007

Jangan lewatkan even AKUAKULTUR INDONESIA Juni, 2007. Terbagi dalam 4 (Empat) kegiatan :

  • KONGRES II MASYARAKAT AKUAKULTUR INDONESIA
  • TEMU ILMIAH AKUAKULTUR INDONESIA IV
  • WORKSHOP BISNIS AKUAKULTUR INDONESIA V
  • PAMERAN TEKNOLOGI AKUAKULTUR

Keterangan lebih lengkap lihat disini.

Posting kali ini untuk mengapresiasi respon posting sebelumnya yang cukup tinggi yaitu probiotik dalam akuakultur, sekaligus menambah referensi terhadap probiotik.

Mekanisme antagonistik probiotik sendiri bekerja dengan beberapa macam cara antara lain:

  • Produksi senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain sebagai contoh bacteriocins, antibiotik seperti surfactins, itulins, bacilysins yang diproduksi spesies bacillus (Urdaci dan Pinchuk, 2004).
  • Kompetisi terhadap substansi yang essensial (yang diperlukan untuk metabolisme). Sebagai contoh Vibrio strain P memenangkan persaingan dengan vibrio patogen dengan mengabsorbsi zat besi. Hal ini dikarenakan Vibrio strain P memproduksi siderophores (Gatesoupe, 1997).
  • Kompetisi untuk ruang adhesi (adhesion sites). Semakin awal kolonisasi probiotik potensial di dalam saluran pencernaan, maka semakin bagus (potensi kerja probiotik) (Bengmark, 1988).
  • ‘Quorum sensing’ antar bakteri. Bakteri dapat berkomunikasi satu sama lain dengan memanfaatkan molekul tertentu yang berperan sebagai sinyal. Dengan quorum sensing, populasi bakteri dapat meregulasi ekspresi gen dan pada akhirnya mempengaruhi komunitas bakteri tersebut (Henke dan Bassler, 2004). Peneliti dari Ugent membuktikan bahwa bakteri dapat menghambat quorum sensing dari bakteri pesaing dengan memproduksi enzim yang menonaktifkan molekul sinyal (Defoirdt, et al., 2004).

ide tulisan oleh Joseph Laranja, ditranslasi/modifikasi oleh Roffi G.

Kelompok peneliti dari Ghent University – Belgium, memastikan bahwa vannamei (SPF) yang diinfeksi WSSV, bila dipelihara pada suhu 33 °C, tidak akan terpengaruh oleh virus tersebut. Hal ini kemungkinan bisa menjadi strategi bagi pembudidaya udang untuk menghindari virus WSSV.

Pada kelompok udang yang diuji tantang serta dipelihara pada suhu 27 °C, dan juga kelompok yang dipelihara pada suhu awal 27°C (yang kemudian dinaikkan suhu medium ke 33 °C setelah uji tantang dengan virus; menunjukkan gejala sel-sel yang positif WSSV 12 jam pasca uji tantang. 24 jam kemudian, udang di kedua perlakuan tersebut menunjukkan infeksi sistemik.

Dari perlakuan terhadap udang yang diuji tantang dengan virus titer WSSV, serta dipelihara dengan suhu air konstan pada suhu 33 °C, tidak menunjukkan sel-sel yang positif terkena WSSV setelah 24 jam pasca uji tantang. Ini menunjukkan bahwa suhu air yang tinggi mencegah terjadinya penyakit (yang disebabkan WSSV) dan secara signifikan mengurangi mortalitas.

Penelitian ini menjustifikasi daftar penemuan sebelumnya bahwa suhu tinggi berperan terhadap menurunnya prevalensi WSSV. Di Ecuador dan Thailand, prevalensi WSSV di tambak serta hatchery, menurun seiring dengan datangnya musim yang lebih hangat (Rodriguez et al., 2003 dan Withyachumnarnkul et al., 2003). Temperature juga berpengaruh terhadap serangan virus pada hewan ektothermik seperti ikan dan insekta, sebagai contoh infeksi yang disebabkan KHV (Gilad et al., 2003; Iida and Sano, 2005).

Mekanisme yang melatarbelakangi hal ini diduga terjadinya hyperthermia yang memicu mekanisme pertahanan pada inang (dalam hal ini udang). Hal tersebut berpengaruh terhadap replikasi WSSV (Vidal et al., 2001; Granja et al., 2003).

Artikel lengkapnya dapat Anda unduh.

PT. Central Proteinaprima (CPRO), perusahaan raksasa akuakultur berbasis di Indonesia yang bergerak pada akuakultur udang terintegrasi, membuat langkah yang spektakuler dengan mengambil-alih sebuah perusahaan budidaya udang berbasis di Florida, USA. Perusahaan yang diambil alih itu adalah perusahaan bernama Shrimp Improvement Systems (LLC) yang bergerak pada produksi benih udang tahan penyakit.

Hendrik Silalahi sebagai sekretaris korporat menyatakan keputusan ini didasari bahwa SIS memiliki program pemijahan udang yang sukses dan dapat meningkatkan resistensi terhadap penyakit, demikian yang beliau katakan kepada Jakarta Stock Exchange (JSX). Selanjutnya yang jadi pertimbangan adalah SIS mempunyai metoda untuk meningkatkan kualitas benih udang yang bebas patogen serta perusahaan ini sudah mempunyai pasar ke 20 negara.

Akuisisi ini merupakan langkah strategis CPRO untuk meningkatkan kinerja perusahaan korporasinya, dalam jangka panjang memperkuat aktivitas operasional serta wilayah pemasaran global. CPRO kedepannya berencana meningkatkan program penelitian genetis di SIS, dan menyeleksi udang yang cocok untuk diimplementasikan di Indonesia. Selanjutnya akuisisi ini berupaya untuk meningkatkan produksi udang dan resistensi udang terhadap penyakit, juga membuat peluang untuk menciptakan pasar untuk memasarkan benih di Indonesia.

Saham CPRO sendiri di lantai bursa efek pada minggu ini merupakan saham teraktif setelah PGAS.

News Source: http://www.antara.co.id/en/seenws/?id=26210

http://www.cpp.co.id/sites/index.php?do=ir.main

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »