<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>[Akuakultur Weblog] &#187; Bioteknologi</title>
	<atom:link href="http://akuakultur.wordpress.com/category/bioteknologi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akuakultur.wordpress.com</link>
	<description>"Blog informasi bagi perkembangan akuakultur Indonesia"</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Jun 2007 16:44:23 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='akuakultur.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/78e4ead95ac0021f0513ce210d3311af?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>[Akuakultur Weblog] &#187; Bioteknologi</title>
		<link>http://akuakultur.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akuakultur.wordpress.com/osd.xml" title="[Akuakultur Weblog]" />
		<item>
		<title>mekanisme antagonistik dari probiotik</title>
		<link>http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/22/mekanisme-antagonistik-dari-probiotik/</link>
		<comments>http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/22/mekanisme-antagonistik-dari-probiotik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 09:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roffi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bioteknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/22/mekanisme-antagonistik-dari-probiotik/</guid>
		<description><![CDATA[Posting kali ini untuk mengapresiasi respon posting sebelumnya yang cukup tinggi yaitu probiotik dalam akuakultur, sekaligus menambah referensi terhadap probiotik.
Mekanisme antagonistik probiotik sendiri bekerja dengan beberapa macam cara antara lain:

Produksi senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain sebagai contoh bacteriocins, antibiotik seperti surfactins, itulins, bacilysins yang diproduksi spesies bacillus (Urdaci dan Pinchuk, 2004).
Kompetisi terhadap substansi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuakultur.wordpress.com&blog=168585&post=33&subd=akuakultur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Posting kali ini untuk mengapresiasi respon posting sebelumnya yang cukup tinggi yaitu <a href="http://akuakultur.wordpress.com/2006/11/27/probiotik-dalam-akuakultur/">probiotik dalam akuakultur</a>, sekaligus menambah referensi terhadap probiotik.</p>
<p>Mekanisme antagonistik probiotik sendiri bekerja dengan beberapa macam cara antara lain:</p>
<ul>
<li>Produksi senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain sebagai contoh bacteriocins, antibiotik seperti surfactins, itulins, bacilysins yang diproduksi spesies bacillus (Urdaci dan Pinchuk, 2004).</li>
<li>Kompetisi terhadap substansi yang essensial (yang diperlukan untuk metabolisme). Sebagai contoh Vibrio strain P memenangkan persaingan dengan vibrio patogen dengan mengabsorbsi zat besi. Hal ini dikarenakan Vibrio strain P memproduksi siderophores (Gatesoupe, 1997).</li>
<li>Kompetisi untuk ruang adhesi (adhesion sites). Semakin awal kolonisasi probiotik potensial di dalam saluran pencernaan, maka semakin bagus (potensi kerja probiotik) (Bengmark, 1988).</li>
<li>&#8216;Quorum sensing&#8217; antar bakteri. Bakteri dapat berkomunikasi satu sama lain dengan memanfaatkan molekul tertentu yang berperan sebagai sinyal. Dengan quorum sensing, populasi bakteri dapat meregulasi ekspresi gen dan pada akhirnya mempengaruhi komunitas bakteri tersebut (Henke dan Bassler, 2004). Peneliti dari <a href="http://www.ugent.be">Ugent</a> membuktikan bahwa bakteri dapat menghambat quorum sensing dari bakteri pesaing dengan memproduksi enzim yang menonaktifkan molekul sinyal (Defoirdt, et al., 2004).</li>
</ul>
<p>ide tulisan oleh <a href="http://bluetang.wordpress.com">Joseph Laranja</a>, ditranslasi/modifikasi oleh Roffi G.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuakultur.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuakultur.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuakultur.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuakultur.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuakultur.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuakultur.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuakultur.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuakultur.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuakultur.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuakultur.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuakultur.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuakultur.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuakultur.wordpress.com&blog=168585&post=33&subd=akuakultur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/22/mekanisme-antagonistik-dari-probiotik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af5ddb9292ce00eae2287bf326cccf87?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pendekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suhu tinggi (33 °C) matikan WSSV pada udang vannamei</title>
		<link>http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/21/suhu-tinggi-33-%c2%b0c-matikan-wssv-pada-udang-vannamei/</link>
		<comments>http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/21/suhu-tinggi-33-%c2%b0c-matikan-wssv-pada-udang-vannamei/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Jan 2007 21:18:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roffi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bioteknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/21/suhu-tinggi-33-%c2%b0c-matikan-wssv-pada-udang-vannamei/</guid>
		<description><![CDATA[Kelompok peneliti dari Ghent University &#8211; Belgium, memastikan bahwa vannamei  (SPF) yang diinfeksi WSSV, bila dipelihara pada suhu 33 °C, tidak  akan terpengaruh oleh virus tersebut. Hal ini kemungkinan bisa menjadi strategi  bagi pembudidaya udang untuk menghindari virus WSSV.
Pada kelompok udang yang diuji tantang serta dipelihara pada suhu 27 °C, dan  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuakultur.wordpress.com&blog=168585&post=32&subd=akuakultur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kelompok peneliti dari <a href="http://www.aquaculture.ugent.be/index.htm">Ghent University</a> &#8211; Belgium, memastikan bahwa vannamei  (SPF) yang diinfeksi WSSV, bila dipelihara pada suhu 33 °C, tidak  akan terpengaruh oleh virus tersebut. Hal ini kemungkinan bisa menjadi strategi  bagi pembudidaya udang untuk menghindari virus WSSV.</p>
<p>Pada kelompok udang yang diuji tantang serta dipelihara pada suhu 27 °C, dan  juga kelompok yang dipelihara pada suhu awal 27°C (yang kemudian dinaikkan suhu  medium ke 33 °C setelah uji tantang dengan virus; menunjukkan gejala sel-sel  yang positif WSSV 12 jam pasca uji tantang. 24 jam kemudian, udang di kedua  perlakuan tersebut menunjukkan infeksi sistemik.</p>
<p>Dari perlakuan terhadap udang yang diuji tantang dengan virus titer WSSV,  serta dipelihara dengan suhu air konstan pada suhu 33 °C, tidak menunjukkan  sel-sel yang positif terkena WSSV setelah 24 jam pasca uji tantang. Ini  menunjukkan bahwa suhu air yang tinggi mencegah terjadinya penyakit (yang  disebabkan WSSV) dan secara signifikan mengurangi mortalitas.</p>
<p>Penelitian ini menjustifikasi daftar penemuan sebelumnya bahwa suhu tinggi  berperan terhadap menurunnya prevalensi WSSV. Di Ecuador dan Thailand,  prevalensi WSSV di tambak serta hatchery, menurun seiring dengan datangnya musim  yang lebih hangat (Rodriguez et al., 2003 dan  Withyachumnarnkul et al., 2003).  Temperature juga berpengaruh terhadap serangan virus pada hewan ektothermik  seperti ikan dan insekta, sebagai contoh infeksi yang disebabkan KHV  (Gilad et al., 2003; Iida and Sano, 2005).</p>
<p>Mekanisme yang melatarbelakangi hal ini diduga terjadinya hyperthermia yang  memicu mekanisme pertahanan pada inang (dalam hal ini udang). Hal tersebut  berpengaruh terhadap replikasi WSSV (Vidal et al., 2001; Granja et al.,  2003).</p>
<p><a href="http://www.aseanbiotechnology.info/Abstract/21020463.pdf">Artikel  lengkapnya dapat Anda unduh</a>.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuakultur.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuakultur.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuakultur.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuakultur.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuakultur.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuakultur.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuakultur.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuakultur.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuakultur.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuakultur.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuakultur.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuakultur.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuakultur.wordpress.com&blog=168585&post=32&subd=akuakultur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuakultur.wordpress.com/2007/01/21/suhu-tinggi-33-%c2%b0c-matikan-wssv-pada-udang-vannamei/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af5ddb9292ce00eae2287bf326cccf87?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pendekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akseptansi Konsumen terhadap Produk Akuakultur &#8220;GMO&#8221;</title>
		<link>http://akuakultur.wordpress.com/2006/12/23/akseptansi-konsumen-terhadap-produk-akuakultur-gmo/</link>
		<comments>http://akuakultur.wordpress.com/2006/12/23/akseptansi-konsumen-terhadap-produk-akuakultur-gmo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Dec 2006 21:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Roffi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bioteknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akuakultur.wordpress.com/2006/12/23/akseptansi-konsumen-terhadap-produk-akuakultur-gmo/</guid>
		<description><![CDATA[Semakin berkembangnya teknologi dan penelitian mengenai GMO (Genetically Modified Organisms) maka semakin meningkat pula isu mengenai akseptansi oleh konsumen terhadap produk akuakultur yang telah mengalami modifikasi genetis. Informasi mengenai pendapat konsumen khusus pada produk akuakultur yang termodifikasi secara genetis, masih dirasakan kurang, oleh karena itu posting ini dirasakan perlu ada untuk sedikitnya mendapat gambaran mengenai pendapat konsumen di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuakultur.wordpress.com&blog=168585&post=27&subd=akuakultur&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Semakin berkembangnya teknologi dan penelitian mengenai <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Genetically_modified_organism">GMO</a> (<em>Genetically Modified Organisms</em>) maka semakin meningkat pula isu mengenai akseptansi oleh konsumen terhadap produk akuakultur yang telah mengalami modifikasi genetis. Informasi mengenai pendapat konsumen khusus pada produk akuakultur yang termodifikasi secara genetis, masih dirasakan kurang, oleh karena itu posting ini dirasakan perlu ada untuk sedikitnya mendapat gambaran mengenai pendapat konsumen di berbagai belahan dunia saat ini.</p>
<p>Modifikasi atau rekayasa genetik pada akuakultur bertujuan untuk produksi yang efisien. Beberapa hal yang telah dilakukan dengan teknologi rekayasa genetik transgenik saat ini antara lain memanfaatkan gen ikan yang diketahui mampu meningkatkan pertumbuhan dan meningkat resistensi terhadap penyakit.</p>
<p>Sebagian besar produk GMO di berbagai belahan dunia masih dikembangkan di skala lab dan menjadi objek penelitian namun di masa mendatang produk ini mungkin saja akan lebih populer karena menawarkan produsen akuakultur alternatif &#8220;yang lebih efisien dan lebih murah&#8221;.</p>
<p>Pada artikel ini akan dibahas mengenai pendapat konsumen &#8216;khususnya&#8217; di USA terhadap produk GMO akuakultur berdasarkan data survey yang dilakukan sekelompok peneliti dari West Virginia, USA. Bila dibandingkan dengan masyarakat Eropa, masyarakat USA lebih cenderung untuk menerima produk GMO. Masyarakat Eropa cenderung lebih hati-hati dengan produk GMO (yang sudah ada) dengan mewajibkan pemasangan label tertentu, bahkan sapi yang diberi pakan dengan bahan baku non GMO cenderung dihargai lebih tinggi. Hal ini ditambah pula dengan preferensi masyarakat Eropa terhadap produk organik dengan traceability yang mengikuti aturan tertentu.</p>
<p>Namun membandingkan akseptansi USA dan Eropa terhadap produk GMO dirasakan kompleks karena perbedaan kultur, perbedaan aturan yang diterapkan ditambah kurangnya pengetahuan tentang GMO.</p>
<p>Hasil survey yang dilakukan tahun 2005 oleh tim peneliti terhadap 800 responden dari berbagai daerah di USA, menunjukkan bahwa potensi terbesar konsumen produk akuakultur GMO adalah masyarakat yang mempunyai income lebih tinggi dengan kategori usia dewasa dan dari kelompok non Afro-American. Model yang dikembangkan oleh peneliti menunjukkan pula bahwa konsumen kemungkinan besar bisa memilih produk GMO yang memiliki persepsi <strong>environmental friendly</strong> (ramah lingkungan) . Arah penelitian ini selanjutnya berkembang untuk mengetahui mengapa pada saat survey terdapat persepsi yang cukup beragam, diduga hal ini mengarah pada ketersediaan informasi (yang kurang) dan mungkin juga pandangan agama seseorang terhadap bioteknologi ini.</p>
<p>Masih banyak yang perlu diketahui mengenai hubungan konsumen dan produk akuakultur GMO sebagai contoh meneliti preferensi konsumen terhadap ikan tangkap versus produk akuakultur dihubungkan dengan isu GMO.  Isu lain yang besar adalah dampak produk GMO terhadap pasar produk perikanan secara global. Hal-hal seperti ini harus segera diantisipasi (dan diteliti) mengingat semakin pentingnya isu ini di masa mendatang walaupun di Indonesia belum terdengar adanya produk GMO dari akuakultur di pasaran.</p>
<p>*Roffi G*</p>
<p>Referensi:</p>
<p>WILLINGNESS TO CONSUME GENETICALLY MODIFIED<br />
FOODS—THE CASE OF FISH AND SEAFOOD<br />
Brian Bennett, Gerard D’Souza, Tatiana Borisova, and Anura Amarasinghe &amp; Agricultural and Resource Economics Program, Division of Resource Management, West Virginia University, Morgantown, West Virginia, USA</p>
<p>Aquaculture Economics &amp; Management, 9:331–345, 2005</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/akuakultur.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/akuakultur.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akuakultur.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akuakultur.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akuakultur.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akuakultur.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akuakultur.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akuakultur.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akuakultur.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akuakultur.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akuakultur.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akuakultur.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akuakultur.wordpress.com&blog=168585&post=27&subd=akuakultur&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akuakultur.wordpress.com/2006/12/23/akseptansi-konsumen-terhadap-produk-akuakultur-gmo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/af5ddb9292ce00eae2287bf326cccf87?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pendekar</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>