Sumber: Press Release Asian Development Bank (Desember-14-2006)
ADB berencana untuk membantu 14000 petani ikan di Indonesia dengan memberikan dana pinjaman sejumlah 33,3 juta US$ untuk meningkatkan produksi akuakultur dan produktivitas sektor ini di sejumlah lokasi terpilih.
Projek ADB ini dilaksanakan sejalan dengan program pemerintah Indonesia untuk mempromosikan akuakultur/budidaya ikan air tawar, payau, dan laut, dengan sistem berbasis komunitas, guna meningkatkan kesejahteraan petani ikan yang kurang mampu.
Adapun lokasi yang terpilih untuk kegiatan ini (menurut ADB), antara lain Langkat di Sumatra Utara, Ogan Komering Ilir di Sumatra Selatan, Karawang dan Sumedang di Jawa Barat dan Buton di Sulawesi Tenggara.
Akuakultur berperan penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia, sektor ini telah menyerap 2,5 juta orang. Akuakultur berperan dalam penyediaan sumber protein dan juga sebagai sumber pendapatan yang potensial dari ekspor ikan/udang maupun dari hasil pemasaran dalam negeri.
Akan tetapi petani ikan yang kurang mampu mempunyai beberapa masalah antara lain kekurangan benih ikan/udang yang berkualitas , polusi, dan juga penurunan kualitas lingkungan. Masalah lain yang menimpa antara lain kesulitan petani ikan untuk mengakses kredit bank bagi modal usahanya dan kurangnya infrastruktur pemasaran.
Projek yang secara ofisial dinamakan “Sustainable Aquaculture Development Project” akan berfokus pada sistem atau usaha “kecil” dengan modal yang rendah, ramah lingkungan, secara ekonomis menguntungkan dan dapat pula dengan mudah direplikasi oleh pengusaha yang lebih besar.
Projek ini termasuk kegiatan menyusun skema baru untuk membantu mengorganisir petani/pembudidaya ikan dalam kelompok dan membentuk koperasi sehingga lebih mudah memasarkan hasil usahanya. Kegiatan tersebut direncanakan untuk didampingi NGO ataupun organisasi berbasis komunitas. Fasilitas akuakultur yang penting akan direhabilitasi sejalan dengan peningkatan prasarana seperti jalan akses.
Projek ini akan membantu Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Directorate General of Aquaculture (DGA)) dan kabupaten terpilih untuk menyusun kebijakan dan regulasi untuk pengembangan akuakultur dan pengelolaan lingkungan.
Selain peningkatan produksi akuakultur, pendapatan, dan lapangan pekerjaan, projek ini diharapkan untuk menciptakan lebih banyak keuntungan secara umum sebagai contoh lingkungan yang lebih bersih, meningkatnya kesehatan dan nutrisi masyarakat setempat.
ADB menanggung 75% dari total biaya projek dimana nilai keseluruhan adalah 44.5 juta US$. Sisa dana disediakan pemerintah pusat dan daerah 8.46 juta US$ dan 2.76 juta US$ oleh beneficiaries. Projek ini direncanakan berlangsung hingga tahun 2013.
Sumber: http://www.harolddoan.com/index.php?name=News&file=article&sid=3009

Pesan saya, mudah2an dana ini benar2 dipakai untuk kesejahteraan masyarakat.
ayo maju terus akuakultur Indonesia!
Sebagai tambahan informasi, proyek ADB tersebut adalah Sustainable Aquaculture Development for Food Security and Poverty Reduction Project (SAFVER) atau Proyek Pengembangan Budidaya secara Berkelanjutan bagi Peningkatan Ketahanan Pangan dan Pengentasan Kemiskinan. Proyek ini akan difokuskan pada pengembangan sistem budidaya skala kecil yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan serta relatif mudah diterapkan oleh para petambak/kelompok petambak.
Proyek ini dilaksanakan di 5 kabupaten pada 4 propinsi dan dilaksanakan dalam kerangka desentralisasi sejalan dengan kebijakan dan regulasi Pemerintah. Jangka waktu proyek ini sekitar 5 tahun yang melibatkan banyak tenaga ahli dari berbagi disiplin ilmu.
Keluaran yang diharapkan dari proyek ini terdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu : (i) Peningkatan produksi budidaya; (ii) Pengembangan sarana pendudkung budidaya, dan (iii) Penguatan kelembagaan dan pengelolaan kegiatan. Komponen-komponen tersebut dirancang melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat dan berbasis sumberdaya lokal.
Jika ada yang menginginkan informasi lebih lanjut atau berdiskusi terkait dengan pengelolaan tambak, silakan kontak saya.