Semakin berkembangnya teknologi dan penelitian mengenai GMO (Genetically Modified Organisms) maka semakin meningkat pula isu mengenai akseptansi oleh konsumen terhadap produk akuakultur yang telah mengalami modifikasi genetis. Informasi mengenai pendapat konsumen khusus pada produk akuakultur yang termodifikasi secara genetis, masih dirasakan kurang, oleh karena itu posting ini dirasakan perlu ada untuk sedikitnya mendapat gambaran mengenai pendapat konsumen di berbagai belahan dunia saat ini.
Modifikasi atau rekayasa genetik pada akuakultur bertujuan untuk produksi yang efisien. Beberapa hal yang telah dilakukan dengan teknologi rekayasa genetik transgenik saat ini antara lain memanfaatkan gen ikan yang diketahui mampu meningkatkan pertumbuhan dan meningkat resistensi terhadap penyakit.
Sebagian besar produk GMO di berbagai belahan dunia masih dikembangkan di skala lab dan menjadi objek penelitian namun di masa mendatang produk ini mungkin saja akan lebih populer karena menawarkan produsen akuakultur alternatif “yang lebih efisien dan lebih murah”.
Pada artikel ini akan dibahas mengenai pendapat konsumen ‘khususnya’ di USA terhadap produk GMO akuakultur berdasarkan data survey yang dilakukan sekelompok peneliti dari West Virginia, USA. Bila dibandingkan dengan masyarakat Eropa, masyarakat USA lebih cenderung untuk menerima produk GMO. Masyarakat Eropa cenderung lebih hati-hati dengan produk GMO (yang sudah ada) dengan mewajibkan pemasangan label tertentu, bahkan sapi yang diberi pakan dengan bahan baku non GMO cenderung dihargai lebih tinggi. Hal ini ditambah pula dengan preferensi masyarakat Eropa terhadap produk organik dengan traceability yang mengikuti aturan tertentu.
Namun membandingkan akseptansi USA dan Eropa terhadap produk GMO dirasakan kompleks karena perbedaan kultur, perbedaan aturan yang diterapkan ditambah kurangnya pengetahuan tentang GMO.
Hasil survey yang dilakukan tahun 2005 oleh tim peneliti terhadap 800 responden dari berbagai daerah di USA, menunjukkan bahwa potensi terbesar konsumen produk akuakultur GMO adalah masyarakat yang mempunyai income lebih tinggi dengan kategori usia dewasa dan dari kelompok non Afro-American. Model yang dikembangkan oleh peneliti menunjukkan pula bahwa konsumen kemungkinan besar bisa memilih produk GMO yang memiliki persepsi environmental friendly (ramah lingkungan) . Arah penelitian ini selanjutnya berkembang untuk mengetahui mengapa pada saat survey terdapat persepsi yang cukup beragam, diduga hal ini mengarah pada ketersediaan informasi (yang kurang) dan mungkin juga pandangan agama seseorang terhadap bioteknologi ini.
Masih banyak yang perlu diketahui mengenai hubungan konsumen dan produk akuakultur GMO sebagai contoh meneliti preferensi konsumen terhadap ikan tangkap versus produk akuakultur dihubungkan dengan isu GMO. Isu lain yang besar adalah dampak produk GMO terhadap pasar produk perikanan secara global. Hal-hal seperti ini harus segera diantisipasi (dan diteliti) mengingat semakin pentingnya isu ini di masa mendatang walaupun di Indonesia belum terdengar adanya produk GMO dari akuakultur di pasaran.
*Roffi G*
Referensi:
WILLINGNESS TO CONSUME GENETICALLY MODIFIED
FOODS—THE CASE OF FISH AND SEAFOOD
Brian Bennett, Gerard D’Souza, Tatiana Borisova, and Anura Amarasinghe & Agricultural and Resource Economics Program, Division of Resource Management, West Virginia University, Morgantown, West Virginia, USA
Aquaculture Economics & Management, 9:331–345, 2005
