Sumber dari Website DKP (http://www.dkp.go.id)
Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang cukup besar dan mempunyai tingkat endemisme yang tinggi, lahan yang beraneka ragam, iklim dan cuaca yang bervariasi, sumberdaya manusia yang cukup besar, demikian pula keaneka-ragaman species ikan. Di Indonesia terdapat 45% species ikan dunia, dan dari sekian banyak species tersebut yang belum dibudidayakan masih banyak. Dengan demikian maka pengembangan akuakultur dapat memberikan hasil yang menjanjikan.
Komoditas unggulan yang dapat dikembangkan pada kegiatan akuakultur di Indonesia meliputi: Crustacea, Ikan bersirip (fin fish), Rumput laut Echinodermata, dan lainnya.
Crustacea (windu, vanamei, udang galah, udang putih, kepiting, rajungan dan udang Cherax). Jenis Crustacea yang telah dlkembangkan selama ini di kenal “luxury lood” dan bernilai ekonomis tinggi antara lain: yang memberikan kontribusi terbesar yaitu + 65% terhadap nilai ekspor nilai hasil perikanan. Pada awalnya jenis udang yang dibudidayakan adalah udang windu yang merupakan indegeneous species Indonesia, setelah mewabahnya penyakit terutama WSSV yang mengakibatkan gagalnya usaha budidaya udang windu, maka di introduksi udang vanamei (th.2000) dan rostris (th.2001) dari Hawaii.
Untuk mengembangkan usaha budidaya udang kedepan, upaya yang dilakukan antara lain: revitalisasi tambak intensif, dengan udang vanamei seluas 700 ha, dengan produktivitas 30 ton/ha/tahun, revitalisasi tambak tradisional seluas 140.000 ha (40% dari tambak tradisional) dengan produktivitas: 600 – 700 kg/ha/tahun, impor vanamei SPF/SPR, pengembangan induk SPF vanamei dalam negeri, revitalisasi backyard hatchery (hatchery skala rumah tangga), penerapan sertifikasi, pengembangan laboratorium, dan pengembangan sarana/prasarana. Sentra pengembangan udang, terutama untuk windu dan vanamei adalah: NAD, Sumut, Lampung, Sumsel, Jabar, Jateng, Jatim, Kalbar, Kalsel, Sulsel, dan NTB.
Ikan bersirip (kerapu, napoleon, bandeng, ikan mas, nila, lele, gurame, patin). Sebagian besar teknologi pembenihan dan pembesaran ikan bersirip sudah dikuasai dengan baik, termasuk dua species kerapu yaitu kerapu macan dan bebek, yang telah berkembang di beberapa propinsi untuk skala besar, menengah maupun skala kecil. Upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan budidaya kerapu telah dilakukan antara lain melalui: pengembangan program INBUDKAN, diseminasi teknologi, pengembangan National Broodstock Center (NBC) Kerapu, dan Balai Benih Ikan Pantai (BBIP), dengan daerah sentra pengembangan utama: Lampung, Kep. Riau, Babel, NTB, Bali, Sulteng, Sultera, Maluku dan Papua.
Komoditas Nila merupakan jenis yang mudah dibudidayakan, baik di kolam, karamba, KJA maupun sawah. Selain mampu memenuhi kebutuhan lokal, nila merupakan komoditas ekspor yang semakin hari semakin meningkat permintaannya. Akan tetapi budidaya komoditas ini menghadapi kendala dalam pengadaan induknya. Untuk itu, pemerintah telah berupaya dengan mengembangkan Program INBUD Nila dan BUPEDES, desiminasi teknologi, dan pengembangan NBC Nila, sertifikasi benih dan pengembangan Balai Benih Ikan Sentral/Lokal. Sentra pengembangan utama nila adalah: Sumbar, Sumut, Jambi, Sumsel, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, Kalsel, dan Sulut.
Jenis komoditas air tawar lainnya yang mudah dibudidayakan adalah Patin, bahkan jenis ini bisa dibudidayakan dilahan marjinal. Sedangkan permintaan pasar untuk patin saat ini cukup menjanjikan, terutama pasar lokal. Sentra pengembangan patin meliputi: Riau, Jambi, Sumsel, Lampung, Jabar, Kalbar, Kalteng, Kalsel, dan Kaltim.
Demikian pula Lele, budidaya lele sudah sangat membudaya di masyarakat Indonesia. Namun permasalahan pokok yang dihadapi dalam budidaya jenis ini adalah kurangnya penyediaan benih yang bermutu. Untuk itu dilakukan upaya pengembangannya melalui: Program Budidaya di Pedesaan (BUPEDES), pemuliaan induk, pemanfaatan lahan marjinal dan pengembangan BBI/Unit Pembenihan Rakyat (UPR). Sentra pengembangan lele meliputi daerah: Sumut, Riau, Sumsel, Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, DI Yogyakarta, dan Jatim.
Seperti halnya lele, Gurame merupakan komoditas air tawar yang mempunyai segmen pasar dan harga yang cukup tinggi. Meskipun masa pemeliharaannya cukup lama, tetapi usaha budidaya gurame cukup menguntungkan. Apalagi dengan berkembangnya segmen-segmen usaha dari mulai pemeliharaan larva, pendederan, dan pembesaran, yang dapat mempersingkat periode usaha.
Jenis ikan bersirip yang secara tradisional telah dikenal sejak lama adalah Bandeng, pada awalnya bandeng hanya mengandalkan benih dari alam, tetapi sejak akhir tahun 1990-an, benih bandeng sudah bisa dipasok dari hasil usaha pembenihan (hatchery). Ikan selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, juga dibutuhkan untuk dimanfaatkan sebagai umpan dalam penangkapan tuna di laut, dan dalam beberapa tahun terakhir ini bandeng sudah menjadi komoditas ekspor, terutama dalam bentuk bandeng tanpa tulang/duri. Oleh karena itu ke depan bandeng mempunyai prospek yang lebih baik. Sentra pengembangan bandeng meliputi: NAD, Jabar Jateng, Jatim, Banten, NTB, Sulsel, Sultra, dan Kaltim.
Lain halnya dengan ikan kakap, yang merupakan komoditas ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, meskipun lebih rendah dari pada kerapu, tetapi pembudidayaannya relatif murah. Belum cukup besarnya perkembangan budidaya kakap lebih banyak disebabkan oleh akses pasar ekspor yang masih terbatas. Pengembangan budidaya kakap banyak dilakukan di karamba di muara sungai, KJA di perairan pantai clan di tambak, dengan sentra utama di Riau dan Kep. Riau.
Rumput Laut, pengembangannya mempunyai prospek yang cukup baik, di samping potensi sumberdaya yang cukup besar, dengan beberapa faktor pendukung lainnya: teknologi budidaya yang sangat sederhana, modal kecil, dapat dimassalkan, periode pemeliharaan singkat (45 hari), permintaan pasar besar, menyerap tenaga kerja, produk olahan yang beragam. Sentra pengembangan meliputi: Kep Riau, Lampung, DKI Jakarta, Banten Jabar, Bali, NTT, NTB, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, Sulteng, Sultera, Maluku, Maluku Utara dan Papua.
Mollusca (kekerangan, tiram mutiara, abalone). Jenis kekerangan yang dikembangkan antara lain kerang dara (Anadara granulosa), kerang hijau (Perna viridis), abalone (Haliotis sp). Ketiga jenis kerang tersebut mempunyai nilai ekonomis tinggi, bahkan abalone harga ekspornya bisa mencapai US$25.-/kg. Upaya pengembangannya telah dilakukan melalui Program BUPEDES, penetapan daerah reservat, pemantauan mutu lingkungan, penerapan budidaya higienis, dan depurasi. Daerah sentra pengembangan adalah di Sumut, Riau, Kep. Riau, Jambi Babel, DKI, Banten, Jatim, NTB, Sulsel, Maluku dan Papua.
Sedangkan tiram mutiara telah berkembang terutama di Indonesia Timur. Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya mutiara ini umumnya berkaitan dengan keamanan, khususnya sejak terjadinya krisis ekonomi yang banyak menimbulkan pengangguran dan kerawanan sosial lainnya.
Ikan Hias, mempunyai peluang yang besar, baik untuk pasar lokal maupun ekspor, dan kelebihan ikan hias adalah dapat diusahakan dalam skala besar maupun skala rumah tangga, perputaran modal yang relatif cepat. Karena sifatnya yang demikian, maka usaha ikan hias mampu menyerap tenaga kerja di mana saja, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Jenis yang berpotensi untuk dikembangkan adalah; botia, arwana, koi, discus, koki, kuda laut. Bagi komoditas kuda laut, teknologi budidayanya telah berhasil dilakukan, akan tetapi belum berkembang di masyarakat, selain karena populasi di alam masih cukup banyak juga karena masih tergantung pada pakan alami yang penyediaannya masih terbatas, sehingga sulit untuk dilakukan secara masal. Namun demikian kuda laut memiliki pasar domestik maupun ekspor, serta berpeluang menjadi komoditas alternatif dalam upaya diversifikasi usaha budidaya. Daerah sentra ikan hias meliputi: Jambi, Sumsel, DKI Jakarta, Jatim, Jabar, DI Yogyakarta, Kalbar, Kalsel, Sulsel, dan Papua.
Komoditas lainnya yang berpeluang untuk diusahakan adalah kodok lembu dan labi-labi. Untuk mendorong berkembangnya usaha dua komoditas ini akan digalakkan sosialisasi clan pembinaan dengan dukungan modal dan pendampingan teknologi ke daerah-daerah yang cocok untuk komoditas ini, yaitu: Sumut, Jambi, Sumsel, Sulut, DKI Jakarta, Jatim, Jabar, DI Yogyakarta, Kalbar, Kalsel, dan Sulsel.
Sumber dari site DKP.

hALLoooOOoo….
saYa mahasiswa perikanan,,,,,
awalnya saya tidak terlalu menyukai tentang ikan namun,lama kelamaan ikan mulai menarik perhatian saya…
indonesia merupakan….the best producing aquaculture lah pokoknya…
‘LoUph BaRudaK lauK IPB 42′
Love U 2 heehehee.. sukses ya kuliahnya!
berani menerima tantangan, jadilah pembudidaya perikanan yang penuh semangat dan kepercaan diri
he2 banyak yang masih harus dilakukan. banyak potensi, tapi sampai saat ini belum ada yang bener-bener berkembang. 4 example :
1.budidaya abalone masih jauh dari berhasil. di Indonesia cuman ada satu tempat pembenihan abalone (ga tau kalo udah ada yang baru).tapi pembesarannya belum ada yang jalan.
2. Rumput laut masih mandek di pemasaran.terus tekhnis dari pembudidayaan yang dikeluarin DKP kayaknya mesti ada yang direvisi.
3. buat komoditas udang-udangan masih tergantung ama induk SPV nya hawai.
saya mahasiswa aquaculture. minta referensi atau artikel tentang ikan hias BOTIA donk!!untuk dijadikan bahan diskusi kami. trims atas bantuannya
boleh.. tar dicariin.. tapi yang anda maksud artikel research bukan?
Salam,
saya fajar di purbalingga ingin ekali budidaya kodok lembu, tlg bantu saya tentang bagaimana proseduir pemasarannya. kalao bisa saya minta bantuan dg siapa saya bisa bermitra atau bekerjasama dalam hal pemasaran.
terima kasih..
hi….
aQ j9 aNak aQuacuLtuRe. mNrUt Q, aQuacULtuRe aSYik n sERu aBiZZ cZ aQ sUkA n9t maeN aiR sO sElaiN aQ dPt pN9taHuaN Tt9 perAiran aQ j9 biza NyaLuriN hoBBy Q…oH YeaCh aQ pNya iMpian pUnya TamBak Ikan yam9 9ede yaN9 seRba oTomatis ( PakE’ RoMote 9t deCh!)so Anak THI TeMuiN swA y9 aQ buThn!CaLL ME 085268186779
saya mempunyai tambak udang (tradisional) sebesar 30 hektar,terletak dikalimantan.dari pertama memulai budidaya udang windu,saya selalu mengalalami kegagalan sehingga rugi.pertanyaan saya apa saja yang perlu saya perbaiki dalam budidaya udang ini.tolong dijelaskan secara mendetail.thx for your help
salam
kalo gak salah lahan di kalimantan tuh asam soalnya tanahnya tanah gambut. bisa disebutkan spesifik gak gagalnya karena apa? kematian mendadak, white spot,
well kalo gara-gara tanah masam mendingan budidayanya pake plastik terpal.jadi tanahnya di lapisin dengan plastik. (saya lupa namanya plastik apa) yah paling nambah-nambah biaya sih buat beli plastiknya
hi………..
saya mahasiswa aquaculture usr, lagi cari referensi mengenai pembenihan ikan kerapu tikus serta kendala-kendala dlm pembenihannya. tolong dibantu yach…. ; p thanx b4.
good luck
referensi untuk pembernihan kerapu tikus ada di websitenya dkp. kendala-kendala di pembenihannya SR yang rendah. Penanganan larvanya harus cermat soalnya pada beberapa fase awal pertumbuhan spina ikannya suka saling mengait sehingga mati. Belum lagi masalah kerentanan pada larva yang berkaitan dengan faktor lingkungan n penyakit. Masalah lainnya kanibalisme, ini bisa diatasi dengan feeding managemen yang bagus (apalagi kultur pakan alami)
ass… pa sy mhs aquaculture dari timur indonesia, kebtulan sya lg susun propsl tentang alga filamen yang menempel pada rumput laut, bagi sy refrensinya sulit di temukan, sy mohon batuan kalau ada tlg di terbitkan artikel soal alga filamen yang menempel pada permukaan rumput laut,k;lau bisa cantumkan dengn klasifikasi, habitat, penyebaran dan potensix maksi
terimakasih komentarnya. Nanti saya carikan ya dan saya terbitkan di http://www.akuatika.net
saya mahasiswa undip 2003, tolong cariin literatur or referensi or artikel tentang starvasi (pemuasaan) udang vanamei donk….
@ ratih – makasih sudah mampir.. blog ini sudah pindah ke http://www.akuatika.net
Tentang starvasi udang, nunggu antrian dulu ya! Siapa tahu saya nanti nulis artikel tentang itu.
Jika anda berminat mengetahui dunia pertambakan udang yang nyata di lapangan kunjungi http://asia.groups.yahoo.com/tambakudang_group/
kami juga menunggu info tentang ilmunya tambak udang dari anda semua
thanks
punya referensi tentang babylonia sp (kerang macan) nggak? kalau ada bagi dunk…aku lagi mau buat thesis tentang potensi pemanfaatan babylonia sebagai sumber pangan. makasih…
bisa bantu aku gak? mau belajar bikin dashi tapi gak tau dimana cari kelp (rumput laut) di indonesia, terutama di jogja.
tolong ya..makasih infonya
Saya tertarik dg udang vaname tp gak tau dmn beli bibitnya di daerah JUANA sini, yg saya tau paling di bali. Mohon infonya kalo ada yg tau. 08157603750
cuwie – kebetulan saya ga punya, maaf banget nih
ilho – untuk rumput lautm, yang saya tau di pulau seribu.. maaf sekali ga bisa bantu
nayla – maap belum bisa bantu, ada yang bisa bantu?
Aquaculture is the best program study in fisheries university, pokoknya klo milih perikanan g bakal nyesel…….
Saya memiliki cukup stock untuk:lola dan teripang. Berminat? abdul Aziz 03172561637 abaziz@telkom.net
haiiii
saya mahasiswa perikanan budidaya IPB
minta modul udang vaname lengkap dunkz!!
serta harga-harga ikan konsumsi dari petani!!
maju perikanan Indonesia tapi anti antibiotik berbahaya y…tetap ramah lingkungan deh!!
Pusing!!!!!!!! cari literatur kerapu macan!!!! yang ada sama smua!!! Bu Lilik n P’ Prayit tercinta………d ACC dong proposal KPAmya….
AbalOone,..ada yg Tauuuu???
yang banyak yah,.inFOoonya truz yg tergress pastinya???
saya mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan. tolong muat lebih banyak tentang akuakultur udang windu..
thanks b4
saya mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan Unpad.saya minta tolong muat lebih banyak tentang akuakultur udang windu..
thanks b4
mo ngomentarin ttg kuda laut:
populasi di alam masih cukup banyak, bukannya udh mulai berkurang krn bnyk penangkapan gelap jg kn???apalagi ttg manfaat kuda laut sbg obat ngebuat eksploitasi di alam lumayan tinggi. makanya di budidayain deh.
pakan alami yang penyediaannya masih terbatas, artemia kn bisa di budidayaain???iya kn???