Feeds:
Pos
Komentar

visit us at..

http://aquaculture-indonesia.blogspot.com

Blog ini untuk seterusnya tidak akan diupdate.

Saya memindahkan blog ini ke http://www.akuatika.net

Blog akuatika.net adalah website lanjutan dari weblog akuakultur dengan konsep baru dan pokok bahasan yang lebih luas meliputi akuakultur, perikanan, lingkungan dan hal² lain seputar dunia perikanan dan kelautan.

Mohon maaf, saya belum memiliki rencana mengupdate isi dari blog ini.

Salah satu alasan adalah karena ingin membuat/memindahkan blog ini ke domain khusus diluar wordpress.com. Untuk rekan² pembaca yang merequest jurnal, mohon bersabar karena saya belum memenuhi permintaan anda.

Kunjungan Ratu Sofia ke Aceh

Kunjungan Ratu Sofia ke proyek rehabilitasi perikanan pasca tsunami di Aceh

Ratu Sofia dari Spanyol mengunjungi proyek rehabilitasi perikanan pasca tsunami di Aceh sebagai salah satu rangkaian acara mengunjungi Indonesia dan Kamboja. Tsunami yang terjadi di Aceh pada bulan desember 2004 menimbulkan kerusakan dahsyat pada bidang perikanan dan akuakultur.

Ratu Sofia menginspeksi fasilitas pembuatan perahu nelayan dan mengunjungi tambak dan kolam budidaya ikan. Beliau juga menginaugurasi sebuah model hatchery di Ladong yang nantinya akan digunakan sebagai pusat pelatihan untuk teknik perikanan yang sustainable. Beliau bertemu dengan sebagian stakeholder proyek yang kebanyakan wanita yang bertempat tinggal di pesisir propinsi Aceh. Beliau mengunjungi pula petani yang telah menerima fasiltas, peralatan, benih serta asistensi untuk membangun kembali usaha budidaya perikanan.

Kunjungan Ratu Sofia didampingi He Changchui yang menjabat sebagai asisten direktorat jenderal FAO untuk Asia Pasifik, staff ahli FAO dan staf ahli dari Spanish International Cooperation (AECI).

He Changchui mengatakan bahwa dengan bantuan Spanyol, nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah ikan mempunyai kesempatan untuk membangun kembali usaha mereka sehingga memiliki kembali masa depan. He Changchui berterimakasih pula atas kedatangan Ratu Sofia ke Aceh sebagai salah satu langkah menyukseskan misi FAO untuk mencapai misi keamanan pangan dunia.

AECI saat ini menyediakan dana sejumlah 1.5 juta euro untuk proyek yang telah berlangsung semenjak Desember 2005. Sebagai upaya tambahan, AECI juga mendampingi pemerintah Republik Indonesia dalam mengkoordinasi strategi dan perencanaan perikanan.

Press release issued by the office of the FAO Representative in Indonesia
dikutip dari http://www.reliefweb.int/rw/RWB.NSF/db900SID/LSGZ-6Y6DJF?OpenDocument

event akuakultur 2007

Jangan lewatkan even AKUAKULTUR INDONESIA Juni, 2007. Terbagi dalam 4 (Empat) kegiatan :

  • KONGRES II MASYARAKAT AKUAKULTUR INDONESIA
  • TEMU ILMIAH AKUAKULTUR INDONESIA IV
  • WORKSHOP BISNIS AKUAKULTUR INDONESIA V
  • PAMERAN TEKNOLOGI AKUAKULTUR

Keterangan lebih lengkap lihat disini.

Posting kali ini untuk mengapresiasi respon posting sebelumnya yang cukup tinggi yaitu probiotik dalam akuakultur, sekaligus menambah referensi terhadap probiotik.

Mekanisme antagonistik probiotik sendiri bekerja dengan beberapa macam cara antara lain:

  • Produksi senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain sebagai contoh bacteriocins, antibiotik seperti surfactins, itulins, bacilysins yang diproduksi spesies bacillus (Urdaci dan Pinchuk, 2004).
  • Kompetisi terhadap substansi yang essensial (yang diperlukan untuk metabolisme). Sebagai contoh Vibrio strain P memenangkan persaingan dengan vibrio patogen dengan mengabsorbsi zat besi. Hal ini dikarenakan Vibrio strain P memproduksi siderophores (Gatesoupe, 1997).
  • Kompetisi untuk ruang adhesi (adhesion sites). Semakin awal kolonisasi probiotik potensial di dalam saluran pencernaan, maka semakin bagus (potensi kerja probiotik) (Bengmark, 1988).
  • ‘Quorum sensing’ antar bakteri. Bakteri dapat berkomunikasi satu sama lain dengan memanfaatkan molekul tertentu yang berperan sebagai sinyal. Dengan quorum sensing, populasi bakteri dapat meregulasi ekspresi gen dan pada akhirnya mempengaruhi komunitas bakteri tersebut (Henke dan Bassler, 2004). Peneliti dari Ugent membuktikan bahwa bakteri dapat menghambat quorum sensing dari bakteri pesaing dengan memproduksi enzim yang menonaktifkan molekul sinyal (Defoirdt, et al., 2004).

ide tulisan oleh Joseph Laranja, ditranslasi/modifikasi oleh Roffi G.

Kelompok peneliti dari Ghent University – Belgium, memastikan bahwa vannamei (SPF) yang diinfeksi WSSV, bila dipelihara pada suhu 33 °C, tidak akan terpengaruh oleh virus tersebut. Hal ini kemungkinan bisa menjadi strategi bagi pembudidaya udang untuk menghindari virus WSSV.

Pada kelompok udang yang diuji tantang serta dipelihara pada suhu 27 °C, dan juga kelompok yang dipelihara pada suhu awal 27°C (yang kemudian dinaikkan suhu medium ke 33 °C setelah uji tantang dengan virus; menunjukkan gejala sel-sel yang positif WSSV 12 jam pasca uji tantang. 24 jam kemudian, udang di kedua perlakuan tersebut menunjukkan infeksi sistemik.

Dari perlakuan terhadap udang yang diuji tantang dengan virus titer WSSV, serta dipelihara dengan suhu air konstan pada suhu 33 °C, tidak menunjukkan sel-sel yang positif terkena WSSV setelah 24 jam pasca uji tantang. Ini menunjukkan bahwa suhu air yang tinggi mencegah terjadinya penyakit (yang disebabkan WSSV) dan secara signifikan mengurangi mortalitas.

Penelitian ini menjustifikasi daftar penemuan sebelumnya bahwa suhu tinggi berperan terhadap menurunnya prevalensi WSSV. Di Ecuador dan Thailand, prevalensi WSSV di tambak serta hatchery, menurun seiring dengan datangnya musim yang lebih hangat (Rodriguez et al., 2003 dan Withyachumnarnkul et al., 2003). Temperature juga berpengaruh terhadap serangan virus pada hewan ektothermik seperti ikan dan insekta, sebagai contoh infeksi yang disebabkan KHV (Gilad et al., 2003; Iida and Sano, 2005).

Mekanisme yang melatarbelakangi hal ini diduga terjadinya hyperthermia yang memicu mekanisme pertahanan pada inang (dalam hal ini udang). Hal tersebut berpengaruh terhadap replikasi WSSV (Vidal et al., 2001; Granja et al., 2003).

Artikel lengkapnya dapat Anda unduh.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.